TALK SHOW IMAJINER AWAL TAHUN 2017

Sepotong Pengalaman Om Ketika Kuliah di Jerman Galses D Kehita *)
August 19, 2017
Pertemuan Alumni Jerman membahas Pilkada DKI Jakarta.
August 19, 2017

TALK SHOW IMAJINER AWAL TAHUN 2017

PERKEMBANGAN GEOPOLITIK DAN GEOEKONOMI 2016 & PROSPEK 2017

JAKARTA,  JANUARI 2017

 

PENGANTAR

 

Bapak, Ibu dan Saudara sebangsa dan setanah air yang saya hormati dan saya banggakan!

 

Memasuki tahun 2017 ini situasi dunia secara keseluruhan dihadapkan pada perkembangan yang cukup merisaukan. Berbagai perkembangan di Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah dan Asia Timur memperlihatkan adanya tantangan besar yang dapat mengancam perdamaian dunia.

 

Agar perkembangan ini dapat lebih dipahami oleh kita di Indonesia, baik Lembaga, Legislatif, Eksekutif, Yudikatif, Perguruan Tinggi , Pers, ddl, kami mengambil inisiatif merangkum berbagai perkembangan dunia selama tahun 2016 dalam bentuk “Talk Show Imajiner”.

 

Semoga gagasan ini juga dapat menjadi pemicu semangat para cendikiawan Indonesia untuk turut serta secara aktif membahas berbagai permasalahan yang terjadi di dunia dan dapat membantu memberikan saran kepada pemerintah Indonesia dalam menjalankan kebijakan luar negerinya berdasarkan prinsip bebas dan aktif.

 

Jakarta, 25 Januari 2017

 

Suchjar Effendi

 

TALK SHOW IMAJINER

AWAL TAHUN 2017

PERKEMBANGAN GEOPOLITIK DAN GEOEKONOMI 2016 & PROSPEK 2017

 

PERSERTA

JURNALIS AMERIKA SERIKAT : TOM  WASHINGTON, RUSIA: ABRAMOWITZ MOSKWA,  JERMAN :  MEYER BERLIN;

CHINA: CHEN BEIJING  & INDONESIA : PROBALY JAKARTA

MODERATOR

ANSEFF

 

Selamat Pagi Bapak, Ibu dan Saudara di seluruh Nusantara  

 

Memulai tahun 2017 ini, kami mengadakan talk show imajiner  dengan tema perkembangan geopolitik dan geoekonomi 2016 & prospek 2017.  Pada talk show imajiner pertama ini, kami mengundang jurnalis dari Amerika, Rusia, Jerman dan China serta dari Indonesia. Jurnalis asing yang kami undang tersebut mewakili  kantor berita masing-masing negara yang berkedudukan di Jakarta dan fasih berbahasa Indonesia. Talk show imajiner ini akan kami lakukan secara rutin.

 

Amerika Serikat, Rusia, Jerman dan China kami undang karena empat negara ini merupakan negara yang memainkan peran penting dan strategis dalam perkembangan beberapa dasawarsa terakhir.

 

Sebagai prolog saya akan memaparkan perkembangan tahun 2016 :

 

Perhatian mayoritas warga dunia selama tahun 2016 tertuju pada beberapa peristiwa di Eropa:  keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). Sebelum Brexit,  terjadi krisis ekonomi dan keuangan yang melanda Portugal, Irland, Greece, Spain (PIGS). Arus pengungsi ke Eropa yang berasal dari wilayah konflik di Timur Tengah, seperti Syria, Irak , Libya, Negara-Negara Maghribi, Tunisia, Maroko, Aljazair dan juga Afganistan. Jumlah mereka mencapai lebih dari 1 juta orang. Jerman saja menampung lebih dari 980.000 pengungsi. Warga Jerman mengeluh, karena negara mereka yang menerima dan mengurus pengungsi harus menerimaq kenyataan pahit. Negeri mereka justru dilanda serangan teroris. Bukan tanda terima kasih yang mereka terima dari pengungsi, namun pelecehan dan berbagai pelanggaran hukum yang terjadi di sana yang dilakukan para pengungsi. Kejadian tersebut  menimbulkan reaksi keras dan memunculkan kekuatan populis kanan di benua Eropa. Seperti Pegida (Patriotic Europeans Against the Islamisation of the West, Occident Patriotische Europäer gegen die Islamisierung des Abendlandes), Patriot Eropa Menentang Islamisasi Oksident. Munculnya kekuatan populis kanan, seperti  AfD, Alternatif für Deutschland di Jerman di bawah pimpinan Lutz Bachmann,  sementara Marie Le Pen menjadi tokoh utama  Front National di Prancis. Hal yang sama berkembang juga di Belanda Belgia, Inggris, dan negara-negara Eropa Timur. Tahun 2009 mereka bahkan membentuk Alliansi Gerakan Nasional Eropa  di Budapest. Tahun 2012 diakui oleh Parlemen Eropa sebagai Partai Politik. Mereka menentang Uni Eropa sebagai Superstate, menentang arus migrasi ke Eropa dan mengritik globalisasi yang dampaknya menghancurkan. Namun Kanzlerin Angela Merkel tetap pada keputusannya untuk membantu pengungsi, walaupun CSU, menentang kebijakannya dan partainya, CDU, mengalami kekalahan dalam pemilihan di beberapa negara bagian.

 

Selanjutnya perkembangan yang terjadi di Eropa ini memunculkan pendapat yang pesimis terhadap masa depan Uni Eropa. Akan berakhirkah  Uni Eropa dan mata uang Euro,  jika kelompok populis kanan memenangkan pemilihan di tingkat nasional?

 

Hal kedua adalah pemilihan Presiden  di Amerika Serikat yang hasilnya benar-benar mengguncangkan masyarakat Amerika dan dunia, menghempaskan harapan kelompok establisment dan merontokkan prognosa lembaga-lembaga survey ternama di sana. Hillary Clinton yang diunggulkan ternyata mengalami kekalahan yang sangat menyakitkan. Setelah pemilihan berakhir, ia terlihat beberapa tahun lebih tua dari usianya. Kemenangan Donald Trump menimbulkan kecurigaan, bahwa Rusia telah ikut campur dalam pemilihan tersebut. Presiden Barack Obama bahkan telah mengusir diplomat-diplomat 35 Rusia.

 

Ada kecemasan besar mengenai politik luar negeri AS di bawah Donald Trump. Sekutu AS melihat masa depan yang cukup suram, baik dari sisi politik maupun ekonomi. Ada saling simpati antara Trump dan Putin. Mereka saling memuji. Apakah nanti akan ada pendekatan antara kedua negara tersebut? Konsesus apa yang akan dibuat? Trump mengangkat CEO Exxon, Rex Tillerson yang dikenal dekat dengan Wladimir Putin, menjadi Menteri Luar Negeri AS. Sebagai Penasihat Keamanan ditunjuk Michael Flynns, pensiunan Jendral berbintang tiga dan veteran perang Afganistan dan Irak, juga dikenal dekat dengan Putin dan menjadi pembicara dalam Rusian Today.

 

Sementara di sisi lain para pendukung perdagangan bebas menjadi ketir, karena Trump akan membatalkan perjanjian TTIP (Transatlantic Trade and Investment Partnership) dan juga TPP (Trasnpacific Partnership). Mengapa keputusan ini diambil? Juga rencana Trump di bidang pertahanan akan  membuat para sekutu AS merogoh koceknya lebih dalam, karena mereka diminta untuk lebih banyak memberikan kontribusinya untuk pertahanan bersama. Apa yang menyebabkan Trump mengambil semua keputusan tersebut?  Kemungkinan apa yang terjadi akibat perubahan kebijakan politik perdagangan dan keamanan ini?

 

Rusia yang sering diolok-olok Barat hanya sebagai kekuatan regional mulai tampil dan berperan penting dalam panggung global. Barat tidak dapat berbuat banyak ketika Rusia  mengambil alih kembali Semenanjung Krim. Embargo ekonomi AS dan Uni Eropa terhadap Rusia ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap ekonomi Rusia. Sebaliknya, Rusia berada di atas angin dalam konflik di Syria. Setelah perundingan pedamaian dengan AS mengenai Syria mengalami jalan buntu, Rusia bersama Turki dan Iran berhasil membuat kesepakatan perdamaian di Syria dengan menghentikan kontak senjata antara berbagai kelompok yang berperang, kecuali terhadap kelompok ISIS. Hal tersebut dimungkinkan setelah pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdogan berhasil menggagalkan percobaan kudeta terhadap dirinya. Ia yang sebelumnya sangat memusuhi Rusia, tiba-tiba berkunjung ke Moskow untuk meminta maaf atas ditembaknya pesawat tempur Rusia yang dianggap melanggar wilayah Turki. Sebagai anggota NATO, Turki kini mangambil jarak dengan Barat yang dituduh berada di belakang kudeta dan Turki juga tidak lagi mau mengemis untuk menjadi anggota Uni Eropa. Perkembangan apa yang akan terjadi setelah perubahan konstelasi kekuatan di Syria dan apa pengaruhnya terhadap Uni Eropa dan AS.

 

Putin juga dinilai piawai memanfaatkan kekuatan populis kanan yang semakin berkembang di Eropa dengan memberikan dukungan terhadap mereka. Bagaimana perkembangan dunia selanjutnya jika kerja sama antara Putin, Trump dan kekuatan Populis kanan di Eropa semakin menjadi trend? Apa dampaknya terhadap proses globalisasi?  Ke arah mana dan di mana konflik yang akan terjadi di masa dekat ini?

 

Cina  yang merupakan rising star telah menjadi pusat gravitasi ekonomi. Berkat pertumbuhan ekonominya selama lebih dari tiga dasawarsa yang rata-rata mencapai di atas 10% bahkan sampai 12%, Cina kini memiliki cadangan devisa sebesar 4 triliun dollar. Mata uang Renminbi kini menjadi mata uang utama dunia di samping dollar AS, Euro, Yen dan Poundsterling. Selain itu,  Cina  memberikan bantuan ekonomi kepada banyak negara sedang berkembang tanpa persyaratan ketat seperti yang pernah dilakukan IMF, juga banyak melakukan investasi di luar negaranya terutama di bidang energi dan infrastruktur. Investasi Cina di bidang teknologi merupakan cara untuk meningkatkan kekuatan ekonominya, salah satunya adalah membeli perusahaan-perusahaan di Eropa dengan teknologi tinggi. Beberapa rencana pembelian ini bahkan dihentikan AS karena ancaman masa depan terhadap penguasaan teknologi yang akan mampu mengembangkan sistem persenjataan Cina.

 

Di sisi lain, Cina dilihat sebagai ancaman terhadap pelayaran di kawasan Asia Timur dan Tenggara. Sebanyak 80% pasokan migas untuk Asia Timur  melewati jalur ini. Klaim China terhadap kepulauan Spartly dan Paracel yang terletak diwilayah yang kaya minyak ini menimbulkan ketegangan dengan Vietnam, Taiwan, Filipina, Brunei dan  Malaysia, karena wilayah tersebut juga bersinggungan dengan wilayah ke lima negara tersebut. Kawasan yang merupakan salah satu lalu lintas perdagangan terpadat di dunia ini merupakan jalur perdagangan bernilai sekitar 5,3 triliun dollar setahunnya. Potensi kekayaan minyak di kawasan ini  sekitar 213 miliar barel  dan 900 triliun m3 gas alam. Tidak mengherankan jika kawasan ini memiliki potensi konflik yang sangat  tinggi dan menyeret negara-negara besar seperti AS yang menghendaki jalur ini tetap terbuka dan bebas bagi lalu lintas perdagangan dunia. Kemungkinan besar konflik yang sekarang berlangsung di Timur Tengah akan bergeser ke wilayah ini dan memicu peningkatan persenjataan di negara-negara yang terlibat di dalamnya. Pertanyaannya adalah apakah konflik ini akan bermuara pada perang terbatas, bahkan perang besar atau ada kemungkinan dicapainya kesepakatan damai diantara negara-negara yang terlibat konflik?  Bagaimana peran Indonesia dalam konflik ini, karena pulau Natuna juga bisa berpotensi menjadi wilayah konflik, karena China mengklaim bahwa mereka berhak menangkap ikan di perairan ini. Apakah Indonesia dapat berperan dalam penyelesaian konflik dan bersikap netral atau justru terseret dalam konflik ini?

 

Dari prolog tersebut, kini kami mulai membuka diskusi dengan para Jurnalis.

 

Moderator:  

Kemenangan Donald Trump tidak hanya mengejutkan Partai Demokrat yang mengusung Hillary Clinton, namun dunia dibuat terperanjat menghadapi kenyataan ini. Mr. Tom,  mengapa Donal Trump dapat menang dan menjungkirbalikan semua prognosa lembaga-lembaga survey di AS?

 

Tom Washington (TW) :

Ada beberapa faktor penting yang menyebabkan Trump menang. Pertama adalah adanya kenyataan, bahwa banyak warga AS masih hidup dalam kemiskinan dan pengangguran. Kesenjangan kaya miskin semakin melebar. Mereka yang kalah dalam proses globalisasi dan tidak menikmati kue kemakmuran, memutuskan untuk memilih Donald Trump. “America First” dan “ Make America great again” menjadi daya tarik bagi mereka yang tersingkirkan untuk memilih Trumpf. Kebanyakan dari mereka adalah pemilih usia di atas 50 tahun. Penyebab kedua adalah team pemenang Trump menggunakan jaringan radio selain media cetak, elektronik dan media sosial. Kampanye lewat radio ini yang tidak terpantau oleh lembaga survey maupun team pemenang Hillary Clinton. Dan yang menentukan adalah ketika Direktur FBI, James Comey mengumumkan bahwa Hillary Clinton tersangkut  masalah email yang melibatkan penasihatnya dan akan melanjutkan penyelidikan Walaupun direktur FBI tersebut akhirnya menarik kembali pernyataannya, namun nama Clinton terlanjur tercoreng dan pemilih akhirnya menentukan pilihannya untuk Donald Trump.

 

Dalam kampanye Trump terdapat kesamaan pemikiran dengan kelompok populis kanan di Eropa yang anti imigran, anti pengungsi dan alergi terhadap pedagangan bebas. Bahkan Trump berjanji akan membangun tembok sepanjang perbatasan Meksiko. Xenopobia menjadi tema untuk memikat pemilih yang merasa semakin terancam kehidupannya dalam proses globalisasi.

 

Moderator :

Pemerintah Trump dalam 200 hari pemerintahannya akan lebih mengutamakan kepentingan pekerja dan perusahaan Amerika dan berkonsentrasi dalam lima butir program yaitu : Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara  (NAFTA) akan dirundingkan kembali atau dibatalkan; Perjanjian TPP (Trans Pacific Partnership) dan TTIP (Transatlantic Trade and Investment Partnership) juga akan dihentikan; Import yang tidak fair  dari mitra dagang AS; akan dihentikan; juga praktek perdagangan yang tidak fair akan dihentikan; lebih mendahulukan perjanjian bilateral daripada perjanjian multilateral. Tindakan balasan proteksionis dari negara-negara mitra dagang AS dapat terjadi, jika Donald Trump benar-benar menerapkan kebijakan proteksionis. Masih ingat great depression di tahun 1930 an?  Apa dampak dari kebijakan ini terhadap perdagangan dunia ?

 

TW:

Trump mengancam Toyota dan Ford agar menghentikan rencana produksinya di Meksiko. Jika tidak, mereka akan dikenakan bea masuk sebesar 35%. Pemerintah Jepang bereaksi terhadap keputusan ini dengan membela Toyota. Kemungkinan besar akan ada perundingan yang akan menguntungkan kedua belah pihak.  Sementara itu Ford mencoret rencana investasinya di Meksiko sebesar 1,6 milyar dollar dan menanamkan modal sebesar 700 juta dollar di Michigan. Diperkirakan akan tercipta 3.500  lapangan kerja baru. Namun di sisi lain Ford juga tidak akan begitu saja membatalkan investasinya di Meksiko untuk jenis mobil generasi baru. Tump juga mengancam General Motor agar merelokasi kembali pabriknya dari Meksiko ke AS jika tidak ingin terkena bea masuk yang tinggi. Hal yang sama dialamin juga oleh perusahaan automotif Jerman, BMW. Seperti diketahui, duapertiga impor mobil AS berasal dari Meksiko, karena negeri ini menjadi tempat produksi automotif,  karena upah pekerja di sana jauh lebih rendah dibandingkan di AS.

 

Perkembangan di AS memang sangat menyedihkan. Negara yang menjadi pelopor perdagangan bebas ini ternyata juga harus menelan pil pahit akibat perdagangan bebas. Seperti di belahan dunia lain, di AS juga ada pemenang dan pecundang globalisasi. The Fittest merasa sudah memegang penuh kendali dan kemakmuran dunia. Mereka lupa, bahwa 1%  warga dunia yang kaya memiliki penghasilan sebesar 57% yang diperoleh si miskin. Lebih dari 1 milyar manusia mendapat upah hanya 1 dollar sehari. Satu milyar manusia tidak punya akses untuk air bersih dan 862 juta orang menderita kekurangan makan. Setiap tahun 10 juta orang meninggal akibat tidak adanya layanan kesehatan.  Menurut Oxfam, 8 orang terkaya di dunia memiliki kekayaan sebesar 426 milyar dollar, setara dengan kekayaan 3,6 milyar orang miskin di dunia.

 

Rasio gini di AS sebesar 0,480 mencerminkan ketimpangan yang terjadi di negara tersebut. The Fittest juga lupa, bahwa krisis ekonomi dan keuangan tahun 2008 disebabkan oleh ketamakan mereka yang tidak bertepi. Joseph E. Stiglitz  dalam bukunya The Roaring Nineties  dan  Globalization and Its Discontents menggambarkan dengan cermat dan tajam mengenai kebijakan ekonomi dan keuangan AS di tahun 1990an dan sesudahnya.

 

Menurut penelitian Oxford, akibat perkembangan teknologi,  dalam 15 tahun mendatang akan menghapuskan 49% lapangan kerja di AS. Kelompok liberal telah mengabaikan ketimpangan yang semakin melebar. Ketidakadilan global akhirnya memunculkan fenomena baru, yaitu lahirnya  persekutuan  antara kelompok ekstrim kiri dan ekstrim kanan menentang globalisasi.

 

Bagi Partai Demokrat dan Hillary Clinton, kemenangan Donald Trump tentunya sangat menyakitkan. Seperti petir di siang hari bolong. Kemenangan Trump dapat dikatakan, akan mengerem kecepatan arus globalisasi untuk sementara. Janjinya ketika kampanye “Make America Great Again” dan  “America First”. Tentunya bukan demi tujuan keadilan untuk warga AS, namun lebih pada upaya untuk merestorasi kejayaan AS dari sisi sebagian The Fittest yang baru meraih kekuasaan politik: Berkaca pada teori Vilfredo Pareto, hasil pemilu di AS memperlihatkan berlangsungnya sirkulasi elite di AS.   

 

Namun Donald Trump akan menghadapi tantangan dan juga tekanan, baik dari Partai Demokrat maupun sebagian kecil anggota Partai Republik, kelompok bisnis, ilmuwan, lembaga think tank, NGO dan pers dll. Sebagai negeri kampium demokrasi, AS memiliki mekanisme sendiri dalam mengontrol dan mengendalikan presidennya yang terpilih secara demokratis. Berbagai kepentingan bisnis akan bermain dalam pembentukan kabinet maupun dalam menyusun kebijakan ekonomi dan keuangan sampai pada kebijakan militer dan pertahanan. Namun perlu diingat juga, bahwa kebijakan luar negeri  Presiden dari  Partai Republik selama ini juga menekankan pada kekuatan militer dan  pengembangan industri persenjataan. Hal ini kelihatanya juga tidak akan mengalami perubahan. Donald Trump akan melanjutkan  kebijakan luar negeri yang keras dan menitikberatkan kekuatan militer. Kita  lihat nanti, negara mana saja yang akan menjadi sasaran dan ke arah mana pusat konflik akan beralih.

  

Sementara itu, The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak 3 kali di tahun 2017 ini. Apa artinya?  Dolar dari seluruh dunia akan kembali mengalir ke AS. Nilai tukar dolar terhadap mata uang dunia lainnya akan meningkat. Bagi Indonesia, kebijakan ini akan berakibat nilai rupiah akan merosot terhadap dolar dan bursa saham akan mengalami penurunan nilai, karena banyak dana akan kembali mengalir ke AS. Mau tidak mau Bank Indonesia harus menaikkan tingkat suku bunga untuk mengurangi arus dana keluar dan melakukan intervensi agar nilai rupiah tidak merosot tajam.

 

Kebijakan proteksionis yang akan dilakukan di AS akan berakibat tersendatnya arus barang masuk ke AS (impor), terutama dari negara-negara pesaing dan produk-produk tertentu. Jika masuk ke sana, harganya akan lebih mahal karena akan terkena bea masuk yang cukup tinggi.  Sementara negara-negara yang selama ini mengekspor produknya ke AS, seperti China akan mencari jalan agar produknya dapat dijual ke negara lain, termasuk Indonesia. Bagi Indonesia, kebijakan perdagangan AS bisa berarti membuka peluang karena: pertama Donald Trump akan menitiberatkan perjanjian perdagangan bilateral dan Indonesia dapat menyelamatkan produk-produknya yang diekspor ke AS. Di sisi lain, produk-produk China yang akan masuk ke Indonesia akan bertambah mahal jika nilai Rupiah mengalami penurunan, dengan catatan, China tidak melakukan kebijakan dumping dan mata uang Renminbi tidak dimanipulasi nilainya agar menjadi rendah.

 

Moderator:  

Setelah berakhirnya perang dingin dan runtuhnya Uni Sovyet, satu-satunya kekuatan adidaya hanya Amerika Serikat (Unipolar). Barat kerap kali mengolok-olok Rusia sebagai kekuatan regional. Namun beberapa tahun belakangan ini, di bawah Wladimir Putin, Rusia tampil di panggung dunia dan memainkan peran signifikan. Di Syria telah terjadi perubahan konstelasi kekuatan. Bersama Iran dan Turki, Rusia berhasil menggalang perdamaian dan melakukan gencatan senjata, kecuali dengan ISIS. Menjelang akhir kepemimpinannya sebagai presiden AS, Barack Obama, menuduh Rusia mempengaruhi pemilu di AS  dan  mengusir 35 diplomat Rusia dari AS. Namun Donald Trump tidak percaya terhadap laporan CIA, FBI maupun NSA, karena menurutnya tidak ada bukti konkrit tentang keterlibatan Rusia dalam pemilu di AS.

Mr. Abramowitz, apa yang Anda lihat dalam perkembangan terakhir di AS? Apa pengaruhnya terhadap  hubungan AS-Rusia dalam waktu dekat ini?

 

Abramowitz Moskow (AM):

Memang sudah waktunya kelompok liberal beristirahat sebagai kekuatan penentu utama dalam perkembangan dunia. Pendulum kini bergerak dari tengah ke arah kanan. Perkembangan ini sekaligus merupakan koreksi dari kebijakan politik dan ekonomi liberal. Demokrasi disalahartikan dan disalahgunakan, baik oleh kekuatan politik maupun oleh kekuatan ekonomi. Kebebasan yang seolah tidak ada batasnya  telah banyak menimbulkan krisis ekonomi, ketimpangan penghasilan,  konflik bersenjata dengan jutaan korban, munculnya teroris serta pengungsi.

 

Kita bisa melihat awal dari meletusnya konflik di Timur Tengah. Berawal dari keputusan  George W. Bush yang menyerang Irak dengan alasan Sadam Husein memiliki senjata pemusnah massal. Demikian juga penggulingan terhadap Moamar Khadafi. Kedua negara tersebut menjadi negara gagal (failure states). Lahirnya ISIS juga merupakan akibat dari kebijakan tersebut. Kemudian juga terjadi di Syria. Dengan alasan HAM, dan dukungan senjata terhadap oposisi telah bermuara pada perang proxi dan perang semua lawan semua. AS harus menerima kenyataan pahit dan berkubang dalam konflik yang menyeramkan ini. Tunisia, negara pelopor Arab Spring,  yang katanya sudah menjadi lebih demokratis, ternyata mengalami krisis ekonomi yang sangat parah. Angka pengangguran semakin meningkat. Sekitar 3000-4000 anak muda dari negara ini direkrut ISIS, bukan karena alasan agama, tapi agar mendapat penghasilan. Eropa Barat harus menerima dampaknya. Teror yang terjadi di Eropa banyak dilakukan anak-anak muda dari wilayah ini maupun dari negara magribhi lainnya.  

 

Ketika Rusia mulai melakukan gempuran udara terhadap jalur penjualan minyak gelap di Syria menuju Turki untuk memutus sumber keuangan ISIS dan menggempur posisi ISIS media Barat memberitakan seolah terjadi banyak korban sipil tak bersalah. Ada cerita lucu : ketika pers Barat memberitakan pengeboman udara di Syria oleh Rusia telah menimbulkan banyak korban anak-anak tewas. Putin menjawabnya: “Pesawatnya saja belum take off, masa sudah diberitakan banyak korban berjatuhan. Selanjutnya Obama mengusir 35 diplomat Rusia dari AS setelah munculnya tuduhan bahwa Rusia berada di balik serangan hacker dalam  pemilu di sana.  Putin justru mengundang anak-anak diplomat AS di Moskwa untuk mengunjungi sebuah pertunjukan di Kremlin.   Itulah sebagian perang propaganda dan Anda mengetahui, siapa yang menguasai opini dunia saat ini.

 

Selanjutnya sangat menarik membaca komentar George Soros dalam bukunya Globalization Report: setelah berakhirnya perang dingin dan runtuhnya Uni Sovyet, Georg Soros mengusulkan agar Barat memberikan bantuan semacam Marshall Plan kepada Rusia dan negara-negara Eropa Timur. Ia malah ditertawakan oleh para pengikut Margaret Thatcher.  Sebagai pelopor dari Open Society dan pendukung masyarakat sipil,  George Soros sebenarnya ingin mengintegrasikan Rusia ke dalam system kapitalisme Barat dan dengan demikian meredam konflik di masa mendatang. Namun euporia dan ambisi menguasai dunia secara politik dan ekonomi dari kelompok kepentingan industri dan finansial yang dominan di Barat telah menggagalkan rencana tersebut.

 

Dengan terpilihnya Donald Trump, kami berharap, bahwa hubungan antara AS dan Rusia akan mengalami perubahan signifikan, jika satu sama lain saling menghormati dan bersedia bekerja sama di segala bidang, terutama untuk mengatasi terorisme secara bersama-sama, mengakhiri perang di Syria, sampai mengatasi krisis ekonomi global. Jika kedua negara ini berhasil mengatasi kelemahan yang dilakukan kelompok liberal, dunia tentunya akan lebih aman dan kini saatnya untuk memulihkan perekonomian masing-masing negara.

 

Moderator:

Uni Eropa (UE) dalam sepuluh tahun terakhir seperti kapal induk yang mengalami turbulensi hebat. Krisis ekonomi dan keuangan yang melanda negara-negara PIGS (Portugal, Irland, Greece dan Spain) satu persatu  harus mengetuk pintu ke Brussel untuk mendapatkan perawatan khusus, agar perekonomiannya keluar dari krisis. Juni tahun 2016 setelah melalui perundingan berbulan bulan dan setelah referendum, Inggris menyatakan keluar dari Uni Eropa (Brexit). Kelompok yang tidak puas dengan Brussel di  beberapa negara anggota UE lainnya melihat kesempatan untuk menekan pemerintahnya masing-masing agar keluar dari UE. Kini Jerman sebagai lokomotif  UE sedang dilanda musibah. Negara ini menampung pengungsi terbanyak di UE. Hampir satu juta orang mendapatkan perlindungan politik di sana. Namun bukan tanda terima kasih yang didapat tapi kekerasan demi kekerasan yang harus ditelan warga Jerman. Ibarat air susu dibalas dengan air tuba.

 

Mr Meyer, Bundeskaanzlerin Angela Merkel begitu gigih mempertahankan kebijakannya untuk menerima pengungsi yang justru berdampak pada keamanan dalam negeri Jerman, menguatkan kelompok populis kanan dan bahkan menggerogoti perolehan suara partainya, CDU (Christliche Demokratische Union).  Apa yang menjadi alasan Merkel dalam menerapkan kebijakan ini?

 

Meyer Berlin (MB):

Untuk dapat mengerti mengapa keputusan tersebut diambil, Anda perlu mengetahui UUD Jerman, Grundgesetz. Pada pasal 1 ayat 1 tentang Hak-Hak Dasar (Grundrechte) tertulis: Die Würde des Menschen ist unantasbar. Sie zu achten und zu schützen ist Verpflichtung aller staatlichen Gewalt. Martabat manusia tidak dapat diganggu gugat. Menghormatinya dan melindunginya merupakan kewajiban seluruh kekuasaan negara. Selanjutnya pada pasal 16a tertulis Politisch Verfogte geniessen Asylrecht. Mereka yang mengalami pengejaran politik berhak mendapatkan suaka politik.

 

Belajar dari pengalaman selama di bawah kekuasaan NAZI,  Jerman setelah berakhirnya perang dunia ke II merancang UUD yang sangat memperhatikan HAM, kebebasan dan keamanan warganya dan juga warga pendatang yang berasal dari negara-negara lain di luar Jerman.

 

Bukan saat ini saja Jerman menampung banyak pengungsi, namun sudah sejak lama negara ini menerima berbagai pengungsi, baik akibat konflik dalam suatu negara, korban perang, karena ras dan ideologinya ataupun yang datang dengan alasan ekonomi dan lapangan kerja. Mereka datang dari India, Pakistan, Banglades, Myanmar, Libanon, Afganistan, negara-negara Eropa Timur, Amerika Latin, Afrika dan Timur Tengah. Namun situasi di tahun 1960-1980an ketika Jerman masih mengalami Wirtschaftswunder, keajaiban ekonomi sangat berbeda dengan situasi kini. Beban yang harus ditanggung Jerman sangat berat. Negara-Negara anggota UE lainnya menolak menerima pengungsi, atau membatasinya. Bahkan Polandia hanya mau menerima pengungsi yang beragama Kristen saja.

 

Kami juga menyadari,  banyak diantara pengungsi tersebut merupakan anggota ISIS dan Anda lihat, Jerman kini menderita akibat teror. Peristiwa Berlin, Köln dan kota-kota lainnya di Jerman  membuat warga terancam kehidupannya. Jadi dapat dipahami, mengapa kekuatan populis kanan semakin besar pengaruhnya dan partai AfD, Alternatif für Deutschland telah meraih kemenangan dalam pemilihan di beberapa negara bagian. Menjelang pemilihan umum di Jerman, pemerintah Jerman mulai melakukan tindakan tegas terhadap para pengungsi yang membahayakan keamanan.

 

Alasan kedua mengapa pemerintah Jerman mau menerima pengungsi adalah adanya  perubahan demografi. Kini warga Jerman banyak yang telah berusia lanjut dan industri Jerman kekurangan tenaga kerja. Banyak diantara pengungsi tentunya merupakan tenaga kerja terdidik dan juga banyak generasi mudanya yang dapat dididik di Jerman dan selanjutnya mereka dapat masuk ke dunia industri. Namun karena perbuatan segelintir pengunngsi yang sangat merusak maka kesan terhadap pengungsi secara umum sangatlah buruk. Karena nila sititik susu sebelanga menjadi rusak.

 

Berdasarkan pengalaman tersebut, kami ingin berbagi dengan pemerintah Indonesia, terutama dalam masalah keamanan. Dunia kini mengalami perubahan yang begitu cepat. Perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi memungkinkan arus barang, jasa dan manusia bergerak cepat. Di satu sisi, perdagangan bebas memang telah meningkatkan kekayaan dunia. Namun di sisi lain juga telah banyak menimbulkan korban akibat konflik, perang, perdagangan narkoba, human trafficking sampai pada terorisme. Kesenjangan pendapatan semakin meningkat, seperti yang telah dikemukakan rekan kami dari AS dan Rusia.  Selain itu banyak pemerintahan di dunia ini harus berpikir dan bekerja keras untuk mengatasi defisit anggaran.

 

Di satu sisi penerimaan dari pajak tidak dapat menutup defisit anggaran yang semakin membesar. Menjual obligasi negara, hutang luar negeri dan menarik investasi asing merupakan beberapa kebijakan untuk mengatasi masalah ekonomi dan keuangan. Namun pemerintah Indonesia juga perlu memperhatikan masalah keamanan dalam negerinya. Saya melihat kebijakan bebas visa untuk masuk ke Indonesia bagi lebih dari 169 negara untuk jangka menengah dan panjang akan menyulitkan Indonesia. Jangan naif dan jangan bermimpi, bahwa dengan meningkatnya arus “wisatawan manca negara” otomatis akan mengembangkan industri pariwisata dan devisa akan masuk lebih banyak. Lakukan evaluasi dan pencatatan akurat, berapa banyak wisatawan asing yang masuk, berapa banyak yang menjadi TKA ilegal untuk berbagai kegiatan,  berapa banyak yang menyelundupkan narkoba, berapa banyak kasus human trafficking, dan yang belum terpantau adalah jaringan teroris yang dapat dengan leluasa masuk ke Indonesia.

 

Pesan saya: lakukan evaluasi setiap tahun. Jika ternyata lebih banyak dampak negatifnya, kaji ulang kebijakan ini dan pemberian bebas visa tidak berlaku untuk semua negara. Anda mungkin mengetahui, berapa banyak turis yang masuk ke Jerman. Tahun 2016  Das Statistische Bundesamt mencatat sebanyak 436, 4 juta turis yang menginap di Jerman, baik dari dalam  maupun luar Jerman. Dari luar Jerman tercatat 79,7 juta turis, naik 5% dan turis dari Jerman sendiri sebesar 356,7 juta orang naik 2% dibandingkan tahun sebelumnya. Bebas visa hanya berlaku bagi negara-negara anggota Uni Eropa, AS, Kanada,  dan negara-negara yang kami pilih secara selektif. Dari belahan dunia lainnya kami menerapkan kebijakan visa masuk yang sangat ketat. Jadi prinsipnya bukan menerapkan kebijakan bebas visa, maka jumlah turis asing akan meningkat, tapi apa yang turis inginkan dari Indonesia jika mereka berkunjung ke sini. Cobalah pelajari negara lain. Yang saya dengar, diterapkannya  bebas visa kunjungan ini Indonesia kehilangan pemasukan sebesar 35 juta dollar setiap tahunnya. Jumlah yang tidak kecil.

 

Moderator:

Mr. Meyer,  Jerman termasuk negara yang juga mengalami schock atas terpilihnya Donald Trump. Banyak yang memprediksi, hubungan Jerman – AS di masa dekat tidak seindah ketika di bawah Obama. Apa yang dikhawatirkan Jerman?

 

Meyer:

Memang ada banyak kesamaan dalam berbagai hal antara AS dan Jerman di bawah Obama dan Merkel, terutama dalam kebijakan internasionalnya. Namun dalam hubungan ini, Jerman tetap merupakan mintra junior AS, walaupun tidak selalu patuh pada dikte AS.. Dalam tradisi politik luar negerinya,  Jerman lebih memilih pendekatan diplomasi, mengutamakan kompromi, mencegah konflik dan menghindarkan terjadinya perang. Ketika Ukraina bergolak, Jerman mencoba melakukan pendekatan dengan Rusia agar terjadi peralihan kekuasaan secara damai. Namun ketika Rusia menduduki Semenanjung Krim, Jerman dengan tegas menentangnya dan mencegah meluasnya konflik bersenjata dan jatuhnya korban di sana. Tindakan embargo ekonomi terhadap Rusia yang dilakukan AS dan mendapat persetujuan UE, sebenarnya lebih banyak merugikan negara-negara Uni Eropa, termasuk Jerman. Hubungan perdagangan antara kedua kawasan tersebut cukup intensif dan besar jumlahnya. Sementara hubungan perdagangan AS dan Rusia tidak sebesar UE-Rusia. Demikian juga  perdagangan antara AS dan Ukraina besarnya tidak signifikan. Bayangkan berapa milyar dollar kerugian yang harus ditanggung UE dan Rusia atas embargo ekonomi tersebut, termasuk ribuan lapang kerja yang hilang.

 

Di Syria, Irak dan Libya perang dan kekacauan terus berlangsung. Selain jatuhnya ratusan ribu korban sipil, hancurnya peradaban,  puluhan juta manusia terpaksa meninggalkan tanah airnya. Sebuah tragedi kemanusiaan yang berlanjut dengan merebaknya terorisme Banyak pihak yang menyesalkan terjadinya perang di wilayah tersebut.  Para intelektual, mantan jendral dan pemimpin di AS dan Eropa menyesalkan dan mengecam perang tersebut. Arab Spring ternyata mengalami kegagalan. Perang ini juga melahirkan terorisme modern dan dampaknya dirasakan di seluruh dunia. Jerman merupakan negara yang harus menerima dampaknya, terutama dalam hal pengungsi dari wilayah tersebut.

 

Dalam bidang perdagangan dan investasi, Jerman juga tidak bisa independen. Ketika China berniat membeli sebuah perusahaan di Jerman, terjadi intervensi langsung dari AS, agar Jerman membatalkan rencana penjualan tersebut. Alasannya adalah perusahaan Jerman tersebut memiliki teknologi tinggi dan dapat membantu China  untuk mengembangkan industri persenjataannya.

 

Di bidang pertahanan, Presiden terpilih AS, Donald Trump merencanakan agar para sekutu AS turut berkontribusi dalam anggaran belanja militer demi kepentingan bersama. Menurutnya NATO sudah obsolet dan perlu penyegaran kembali.  Uni Eropa, Jepang, Kanada, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan dll harus meningkatkan dana di bidang keamanan dan  persenjataan. Pilihannya ada dua: mereka memberikan dana ke AS untuk anggaran persenjataan bersama yang dikelola AS atau masing-masing negara sekutu AS mulai membangun dan memperbesar kapasitas industri persenjataannya sampai pada upaya pengembangan persenjataan terbaru. Dari kebijakan ini, terbaca jelas, bahwa pola pikirnya masih seperti masa perang dingin.  Rencana tersebut di sisi lain mencerminkan situasi keuangan AS yang semakin memburuk akibat berbagai krisis ekonomi. Sebagai negara adidaya, AS tidak sanggup lagi membiayai keamanan dan persenjataannya. Yang kedua, dunia sejak lama sudah paham akan kepentingan industri  persenjataan AS (Industry Military Complex). Dalam kaitan ini, Jerman tentunya berkeberatan jika ketegangan akan kembali seperti era perang dingin.

 

Sementara itu, rencana Donald Trump untuk menghentikan rencana kemitraan di bidang perjanjian perdagangan dan investasi dengan UE, Transatlantic Trade and Investment Partnership (TTIP) tentunya juga akan berdampak pada perekonomian UE dan mengerem laju dan peningkatan perdagangan antara AS dan UE.  Namun saya kira tidak ada perubahan yang signifikan terhadap kerja sama perdagangan dan investasi  antara AS dan UE, karena kemitraan Atlantik sudah berlangsung sangat lama dan tidak akan tergoyahkan. Masing-masing pihak saling memerlukan dan saling tergantung satu sama lain. Demikian pula dengan perdagangan antara AS-Jepang dan AS-China. Pasti terjadi sedikit koreksi dan akan membawa perubahan yang lebih menguntungkan AS. Hubungan perdagangan antara AS-Rusia besar kemungkinan akan lebih berkembang, terutama di bidang migas dan kerjasama teknologi ruang angkasa.

 

Moderator:

Mr. Chen, seluruh dunia mengagumi kemajuan yang telah dicapai China. Dalam tempo tiga dasawarsa China telah berubah; dari negara miskin menjadi negara dengan perekonmian kedua terbesar di dunia. Cadangan devisanya lebih dari 4 triliun dollar. Lebih dari 400 juta orang terbebas dari kemiskinan. China menjadi pabriknya dunia. Membanjiri dunia dengan barang-barang murah dan menyerap bahan mentah dari seluruh dunia. China bahkan membeli industri dengan teknologi tinggi di Eropa dan AS. Menanamkan modalnya di bidang infrastruktur dan energi di banyak negara. Jutaan turis dari China menikmati liburannya di berbagai belahan dunia dan seterusnya.

 

Di balik gemerlap kemajuan  China, muncul sisi lain yang sangat mengkhawatirkan. China secara sepihak mengklaim kepulauan Spartly dan Paracel sebagai wilayah China. Negara-negara yang berbatasan dengan China, seperti Taiwan, Vietnam, Filipina, Malaysia dan Brunei Darussalam sangat cemas melihat perkembangan ini. Namun mereka tidak berdaya berhadapan langsung dengan China. Keputusan Mahkamah Internasional yang memenangkan tuntutan Filipina terhadap wilayahnya yang diklaim China tidak diakui oleh pemerintah China. Dunia kini cemas melihat  perkembangan yang terjadi di wilayah Laut China Selatan. China bahkan telah membangun landasan pesawat terbang. Perlombaan persenjataan di wilayah ini sudah dimulai dan diperkirakan akan terus meningkat dalam waktu dekat ini.

Laut China Selatan dalam bahasa Mandarin disebut  Pinyin Nán Hǎi („Laut Selatanr“),  dalam bahasa Vietnam,  Biển Đông („Laut Timur“),  dalam bahasa Filipinan dan Tagalog Dagat Luzon („Laut Luzon“) atau  Dagat Kanlurang Pilipinas („ Laut Filipina Barat), dan bahasa Indonesia/Melayu: Laut China Selatan.

 

Wilayah ini berjarak 190 km dari Filipina, 475 km dari pantai Vietnam, 300 km dari Malaysia dan lebih dari 1000 km dari pulau paling Selatan propinsi China, yaitu pulau Hainan. Tahun 2009 China mengajukan peta dengan “sembilan garis putus-putus” ke PBB dan dengan demikian China merasa memiliki hak sejarah atas sebagian besar wilayah tersebut. Namun tuntutan  China itu bertentangan dengan United Nations Convention on the Law of the SeaUNCLOS) dan China baru menjadi anggotanya tahun  1996. Kesepakatan tentang hukum laut ini mengatur batas termasuk zona ekonomi dan hanya memasukkan pulau-pulau yang berpenghuni dan yang dapat dihuni, namun tidak mengatur kepulauan karang yang berada  di atas dan di dalam air.   

 

Mr Chen, apa yang dapat Anda jelaskan dari sudut pandang pemerintah China di wilayah ini?

 

Chen Beijing (CB):

Pertama, menurut pemerintah China, wilayah ini sebenarnya sudah sejak abad ke dua merupakan bagian dari China. Jadi merupakan fakta sejarah. Di sisi lain perlu Anda ketahui: di pemerintahan China dan Politbiro Partai Komunis China terdapat kelompok yang tidak sepakat atas klaim China terhadap wilayah ini. Namun mereka masih merupakan minoritas. Sementara kelompok ultra kiri menghendaki kejayaan China,  apapun resikonya. Namun mereka lupa, bahwa langkah tersebut dapat merupakan jebakan yang akan menjerumuskan China dalam perang dengan negara-negara tetangga dan bahkan dengan Amerika Serikat. Kekuatan militer dan persenjataan China masih jauh di bawah AS. China hanya punya satu kapal induk, Liaoning. Itupun kapal bekas yang dibeli dari Ukraina.  

 

Yang akan terjadi adalah munculnya “ketegangan permanen” berupa peningkatan perlombaan persenjataan di kawasan ini. Dampaknya dapat diprediksi: pengeluaran belanja untuk pertahanan akan semakin meningkat dan mengurangi belanja untuk sektor lainnya yang sangat strategis untuk perkembangan ekonomi China ke depan,  seperti pendidikan, kesehatan, penelitian teknologi, infrastruktur, pengembangan energi sampai teknologi ruang angkasa. Ingat nasib Uni Sovyet yang terperangkap strategi Barat dalam perlombaan persenjataan selama perang dingin? Apocalypse! Tahun 1991 Imperium Sovyet sirna. Ideologi Komunisme menjadi masa lalu. Perestroika dan Glasnot produknya Mikhail  Gorbachev hanya menjadi penyesalan. Nasi telah menjadi bubur.

 

Jika China tidak melakukan koreksi terhadap kebijakannya di wilayah Laut China Selatan, tentu akan menjadi bumerang. Cadangan devisa sebesar 4 triliun dollar dapat habis untuk belanja pertahanan dan pengembangan persenjataan. Hanya menanti saatnya,  China hancur dari dalam: Implosion atau mengambil langkah kompromi dengan negara-negara tetangga. AS sebagai kekuatan hegemoni dunia tidak akan mengambil resiko mengobarkan perang di wilayah ini. AS akan melakukan pendekatan dengan Rusia, Jepang, Uni Eropa, India, ASEAN, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru dan Kanada. China akan merasa dikepung dan paranoid. AS juga telah memindahkan 60% kekuatan armada lautnya ke wilayah Pasifik. Jadi cocok sekali dengan rekomendasi Fareed Zakaria dalam bukunya The Post American World, agar AS segera angkat kaki dari Irak dan Syria dan mengalihkan perhatiannya ke Laut China Selatan yang lebih memiliki arti geostrategis.

 

Di satu sisi persaingan persenjataan dan ekonomi akan meningkat. Saling ancam, manuver militer dan latihan militer di kedua belah pihak bertambah intensitasnya. Bujuk rayu melalui bantuan ekonomi terhadap negara-negara kecil juga melengkapi persaingan ini.  Di sisi lain, langkah-langkah diplomatis juga intensif dilakukan kedua belah pihak. Siapa yang punya nafas panjang, dia akan keluar sebagai pemenang.Pemimpin China tentunya tidak akan mengulangi kesalahan fatal seperti Uni Sovyet.  Opsi ketiga: Win-Win Solution dimungkinkan. Syaratnya, kekuatan moderat di China dapat memenangkan persaingan kekuasaan dan China akan menjadi negara demokratis. Jika opsi ketiga menjadi pilihan,  kelahiran China sebagai Adidaya baru menggantikan AS dapat berjalan mulus dan tanpa pertumpahan darah.  Dunia kembali menjadi multipolar.

 

Moderator:

Mr. Chen, pemerintah China tentu merasa senang akan rencana Donald Trump untuk membatalkan perjanjian perdagangan bebas TPP (Trans Pacific Partnership), karena China tidak masuk ke dalam club ini. Di sisi lain, keputusan ini tentunya dapat melemahkan perdagangan luar negeri Jepang dan menurunkan pertumbuhan ekonominya di masa depan. Sementara itu Donald Trump juga akan bersikap tegas dalam hubungan perdagangan AS dan China. Artinya, produk-produk China akan menghadapi kebijakan perdagangan luar negeri AS yang protektif. China harus mengoreksi nilai tukar mata uangnya yang selama ini berada di bawah nilai realnya, menghapuskan kebijakan dumping serta memenuhi kriteria produk yang sehat dan ramah lingkungan. Perundingan perdagangan bilateral antara AS-China tentunya akan memasuki tahap yang lebih rumit. Langkah pemilik Alibaba, Jack Ma yang bertemu Donald Trump patut diapresiasi. Dia menjanjikan satu juta lapangan kerja di AS. Ini langkah awal yang bagus untuk hubungan kedua negara.

 

Mr. Chen, negara-negara mitra dagang AS merasa khawatir akan rencana Donald Trump untuk melakukan kebijakan tegas dan keras terhadap mereka. Intinya: kebijakan proteksionis untuk melindungi industri dan lapangan kerja di AS. Apakah China telah memikirkan strategi khusus menghadapi perubahan ini?

 

Mr. Chen:

China tentunya merasa berhutang budi dan berterima kasih terhadap kebijakan AS selama perang dingin. Menlu Henry Kissinger berhasil membuka pintu China yang selama beberapa dasawarsa mengisolasikan diri dari pergaulan dunia. Mao Tse Tung pun  runtuh keyakinan idiologinya dan bersedia menerima kapitalisme. Partai Komunis China bahkan menjadi pengawal yang setia atas keamanan modal asing di China. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahkan oleh mereka yang sangat anti komunis maupun yang sangat anti Amerika.  Kissinger memang seorang yang genius! Teori konvergensi J.K. Galbraith menjadi kenyataan..

 

Tanpa modal dan teknologi asing, China tidak akan maju dan makmur seperti sekarang ini.  Hanya orang dungu yang tidak mengakui kenyataan ini. Oleh sebab itu, pertarungan antara kelompok ultra kiri, pragmatis dan liberal di China juga akan mempengaruhi kebijakan ekonomi dan perdagangan China ke depan. Ancaman terbesar terhadap perekonomian China sebenarnya bukan dari kebijakan proteksionis Donald Trump. Ancaman tersebut berasal dari dalam China. Jika terjadi pergolakan sosial akibat ketimpangan penghasilan akan bermuara pada  instabilitas politik. Di masa depan, China akan disibukkan oleh demonstrasi buruh di perkotaan yang menuntut perbaikan upah dan protes petani di pedesaan yang menuntut perbaikan daya beli mereka yang semakin turun. Sementara itu semakin tingginya ongkos produksi akan mendorong terjadinya relokasi sebagian perusahaan asing yang menanamkan modalnya di China. Perubahan ini akan semakin menggerus wibawa dan pengaruh Partai Komunis China yang juga sedang menderita penyakit korupsi.

 

Yang kedua adalah, kebijakan  politik luar negeri, terutama dalam kebijakan di Laut China Selatan. China harus berani mengambil posisi kompromi dengan negara-negara yang terlibat konflik di wilayah tersebut. Namun kebijakan ini tidak akan terwujud, jika kelompok garis keras dan ultra kiri masih memegang kendali PKC dan pemerintahan. China pada akhirnya harus menerima kenyataan sejarah : sistem ekonomi kapitalisme tidak bisa langgeng bersanding dengan sistem politik komunisme. Kapitalisme hanya akan bertahan dan berkembang dengan sistem politik yang demokratis. Jika elite China menyadari hal ini, maka mereka harus berani memulai langkah reformasi politik yang dapat mendukung sistem kapitalisme. Bukan hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang tidak mungkin terjadi. Sejarah China menunjukkan kepada dunia, perubahan besar dan konflik elite di sana  kerap diikuti pertumpahan darah. Semoga tidak terulang! Barat dan Rusia dapat memberikan kontribusinya membantu masa transisi kedua di China dan  kelahiran adidaya baru secara damai.

 

Moderator:

Bapak Probaly, dunia sejak dulu memang selalu diwarnai konflik kepentingan. Di tingkat nasional, regional maupun internasional. Pemikir liberal Jerman yang bermukim di Inggris, Prof. Ralf Dahrendorf mengatakan bahwa konflik  jika dikelola dengan baik dapat menjadi  motor kemajuan masyarakat. Sejarah juga mengajarkan, jika konflik diredam, ia akan berakumulasi menjadi kekuatan yang dapat menghancurkan sendi-sendi peradaban. Sejauh ini demokrasi adalah jawabannya dan Indonesia sedang menikmati demokrasinya yang masih belia. Banyak yang belum memahami batas-batas kebebasan, demokrasi dan keamanan. Ada semacam gegar budaya. Etika berdemokrasi masih bertengger dalam angan-angan.

 

Dibandingkan yang terjadi di luar sana yang sedang bergolak, kelihatannya Indonesia nyaman-nyaman saja, ibarat  sayur tanpa garam. Seperti lagunya Koes Plus: Bukan lautan hanya kolam susu.  Indonesia hanya menjadi berita jika terjadi bencana alam, kebakaran hutan, teroris, korupsi dan kemiskinan, serta intoleransi.  Padahal di sisi lain ada begitu banyak peluang, agar Indonesia tampil lebih percaya diri di panggung dunia. Mengapa banyak energi terbuang untuk hal yang sepele? Apa yang harus dilakukan Indonesia, agar dunia menoleh ke Indonesia dan berkata:” Akhirnya raksasa Asia itu bangun dari tidurnya”.

 

Probaly:

Jika mau jujur, sebenarnya Indonesia sukses melakukan transformasi mental. Dari kebiasaan amok (ngamuk!) menjadi konflik terkendali dan disalurkan dalam bentuk debat, demonstrasi, sampai pada berita hoax dan fitnah melalui media sosial. Energi negatif yang selama ini terpendam dapat disalurkan dan tidak terakumulasi menjadi amok massal dan berdarah-darah, seperti yang pernah melanda negeri ini. Perkembangan yang positif bukan?  Katakanlah kita masih belum puas dengan perubahan ini. Namun itulah perubahan yang sifatnya bertahap. Tidak serta merta berubah dalam semalam atau meminjam istilah Filsuf Jerman Friedrich Wilhelm Nietzsche, Die Umwertung aller Werte, penjungkirbalikan semua nilai-nilai, juga memerlukan proses.

 

Manusia Indonesia kini banyak memiliki sifat-sifat positif. Coba lihat perubahannya pada generasi muda kita: sudah berani mengeluarkan pendapat dan berdebat, rajin belajar, rajin bekerja, pintar cari uang, lebih bertanggung jawab, pandai berorganisasi, percaya diri, tepat waktu, tubuh dan pikirannya fit, open minded, menguasai teknologi, multi talenta,  bahkan ada yang menguasai beberapa bahasa asing dan sifat-sifat positif lainnya. Semua itu merupakan buah dari konflik kepentingan dan persaingan di masyarakat yang terkelola dengan baik di atas landasan demokrasi dan keterbukaan. Indonesia telah menjadi bagian dari open society. Jadi ini merupakan antitesis pendapatnya Muchtar Lubis yang hanya melihat sifat-sifat negatif manusia Indonesia dan mencerminkan pandangan statis.

 

Sifat-sifat positif yang berkembang pesat ini akan menyebar dan menjadikan generasi muda Indonesia menjadi hybrida baru. Kekuatan majemuk akan terus berkembang dan menguat, lintas suku, lintas agama, lintas profesi, lintas usia, lintas ras dan bangsa. Masa depan Indonesia yang dulu kita mimpikan, kini sebagian sudah menjadi kenyataan. Mereka yang berpikir, berbicara dan bertindak positif akan terus berprestasi dan survive. Yang berprilaku sebaliknya hanya akan terlempar dan menjadi bagian dari sejarah. Semakin besar dan berkembang sifat-sifat positif ini, maka Indonesia akan semakin kuat dan percaya diri.  Raksasa Asia ini pasti bangun dari tidurnya.

 

Yang tidak kalah pentingnya adalah kenyataan bahwa semakin banyak generasi muda Indonesia menuntut ilmu di luar negeri, bekerja dan berkarya di sana. Kualitas mereka banyak yang mencapai kelas dunia. Mereka perlu didukung terus dan buatlah jejaring internasional para intelektual dan pebisnis Indonesia. Kedutaan Besar Indonesia di luar negeri harus menjadi ujung tombak proyek besar ini. Selain itu, kepergian intelektual Indonesia ke luar negeri jangan dilihat sebagai brain draint, tapi merupakan sebuah proses brain circulation. Di masa depan, Indonesia harus cerdik membuat kebijakan yang mengarah pada brain gain.

 

Moderator:

Pak Probaly, setelah Donald Trump terpilih,  AS akan menjalankan politik luar negeri dan keamanan yang lebih keras dan tegas terhadap China, utamanya di Laut China Selatan. Kebijakan ini tentunya akan berdampak pada peningkatan persenjataan di wilayah ini. Selain lima negara yang terlibat konflik perbatasan dengan China (Taiwan, Vietnam, Filipina, Malaysia dan Brunei),  anggota ASEAN,  Jepang serta sekutu AS lainnya seperti Australia, Selandia Baru dan Korea Selatan dipastikan akan meningkatkan anggaran militernya.

Sekitar 60% armada laut AS kini sudah dialihkan ke Pasifik.   Perkembangan ini tentunya sangat mencemaskan.  Bagaimana pendapat Anda mengenai posisi dan peran Indonesia dalam konflik Laut China Selatan ini?

 

Probaly:

Dalam Pembukaan UUD  1945 alinea 4 disebutkan “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia…..”

 

Selain itu, Indonesia sampai saat ini memiliki prinsip kebijakan luar negeri yang bebas dan  aktif.

 

Jadi jelas bagi kita, Indonesia harus ikut melaksanakan ketertiban dunia dan menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif. Artinya, dalam upaya mencegah konflik di  Laut China Selatan kita tidak boleh ragu dan harus proaktif, mengambil inisiatif menghubungi berbagai pihak yang terlibat sengketa di wilayah ini dan mengadakan pertemuan bilateral maupun multilateral. Indonesia sudah melakukan hal tertsebut dengan sanga  baik. Seperti yang dipaparkan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, kebijakan luar negeri Indonensia akan difokuskan ke ASEAN. Terkait dengan sengketa di Laut China Selatan, Indonesia mendorong diterapkannya tata kelakuan  baik (Code of Conduct).

 

Yang perlu dipahami bersama adalah, kita tidak bisa mengisolir sengketa di Laut China Selatan hanya pada negara-negara yang terlibat di sana (Climant). Seperti diketahui, LCS itu merupakan jalur pelayaran internasional. Sebanyak 80% pasokan migas untuk Asia Timur  melewati jalur ini. Selain China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan juga sangat berkepentingan agar jalur laut ini aman, terbuka dan bebas bagi lalu lintas perdagangan dunia. Anda  bayangkan apa dampaknya terhadap perekonomian negara-negara Asia Timur dan dunia, jika terjadi perang di LCS. Jika pasokan migas terhenti akan berakibat pada lumpuhnya kegiatan produksi, distribusi, lalu lintas barang, jasa dan manusia di wilayah ini dan merembet ke wilayah lain di seluruh dunia. Perekonomian dunia akan mengalami resesi yang paling kelam  yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah dunia. Pengangguran akan meningkat di seluruh dunia dan menimbulkan kekacauan.  Apocalypse!

 

Namun wilayah ini memang sangat menggiurkan. Kawasan ini merupakan salah satu lalu lintas perdagangan terpadat di dunia, dengan nilai perdagangan sekitar 5,3 triliun dollar setahunnya. Potensi kekayaan minyak di kawasan ini  sekitar 213 miliar barel  dan 900 triliun m3 gas alam. Tidak mengherankan jika kawasan ini memiliki potensi konflik yang sangat  tinggi dan menyeret negara-negara besar seperti AS. Sebagai negara calon adidaya baru yang perekonomiannnya berkembang pesat, China juga sangat membutuhkan bahan mentah, terutama energi, agar gerak roda industrinya tetap mengepulkan asap. Di sisi lain, para pemimpin China juga diharapkan dapat berpikir jauh kedepan dan strategis serta mengutamakan perdamaian dan hidup berdampingan, saling menghormati kedaulatan negara lain. Ingat pepatah China yang mengatakan :”Jangan menyalakan api, jika kamu tidak dapat memadamkannya kembali”.

 

Indonesia sebagai  negara terbesar di ASEAN sekaligus menjadi jangkarnya,  harus berperan proaktif agar “kapal induk ASEAN” ini tetap dapat berlayar menghadapi ancaman turbulensi besar mendatang. Diplomasi Indonesia dalam menciptakan perdamaian harus terus berjalan, jangan berhenti dan berpuas diri pada inisaitif dan gagasan terdahulu. Inovasi gagasan perdamaian merupakan kata kunci!

 

Moderator:

Terima kasih Pak Probaly,  Tom Washington, Abramowitz Moskwa, Meyer Berlin  dan Chen Beijing atas penjelasan, pandangan dan masukkan dari Anda semua. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi pengambil keputusan para pemimpin di seluruh dunia untuk menciptakan perdamaian. Sampai jumpa pada Talk Show Imajiner berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *