Sepotong Pengalaman Om Ketika Kuliah di Jerman Galses D Kehita *)

Membuat rencana untuk studi di Jerman
August 19, 2017
TALK SHOW IMAJINER AWAL TAHUN 2017
August 19, 2017

Sepotong Pengalaman Om Ketika Kuliah di Jerman Galses D Kehita *)

Ada cerita lama, kira-kira 40 tahun lalu kejadiannya.   Papa dan Mama kamu mungkin belum lahir atau masih di TK atau SD.  Ceritanya begini:  waktu itu om ambil kursus bahasa di Goethe Institut.  Ada banyak anak muda di sana. Satu kelas bisa sampai 15 atau 20 orang. Rata-rata mau pada pergi ke Jerman. Ada anak diplomat, anak pegawai negeri, anak dosen, sampai anak pengusaha kaya. Di antara mereka ada yang kebelet bener mau cepet-cepet ke Jerman. Baru 3 bulan kursus, om diundang pesta perpisahan oleh satu  teman sekelas. Undangannya berjudul “ Sate Night”. Wah rame deh pestanya. Papa dan Mamanya begitu sumringah, anaknya mau ke Jerman. Kita yang diudangpun senang bisa makan sate gratis dan makanan yang enak-enak. Saudara dan tetangganya pun ikut senang.  Teman om yang mau ke Jerman ini bilang: Nanti kita ketemu di Jerman ya. ” Selamat jalan,  semoga sukses” jawab om.

Temen-temen om yang lain pada tertular, mau cepet-cepet pergi ke Jerman setelah menerima kartu pos dari sana (dulu kan belum ada sosial media tuh). Lihat kartu pos Jerman aja pada seneng.

 

Setahun  setelah kursus bahasa Jerman, om berangkat ke Jerman. Wah,  senang sekali rasanya. Akhirnya om bisa menginjakkan kaki di benua Eropa,  negeri Jerman, tanah airnya para Filsuf dan negeri sumber inovasi teknologi. Waktu itu bulan Januari dan sedang musim dingin. Pertama kali om melihat dan merasakan turunnya salju. Ooh betapa indahnya salju itu, seperti kapas melayang, beterbangan tertiup angin sebelum menyentuh bumi. Angin bertiup lembut, udara begitu segar. Tidak ada polusi, tidak ada debu. Om menarik napas dalam-dalam sambil memuji nama Tuhan dan bersyukur, keinginan om terwujud. Di bawah turunnya salju, om berjanji akan kembali ke Indonesia dengan membawa pulang ijazah perguruan tinggi Jerman. Itu tekad om!

 

Om memilih kota Berlin, tempat untuk menimba ilmu. Ketika tiba di sana, om tinggal di sebuah asrama mahasiswa, menumpang sementara di kamar seorang mahasiswa Indonesia yang sudah beberapa tahun di sana. Atas sarannya, om melanjutkan kursus bahasa Jerman lagi selama enam bulan, sebelum masuk mengikuti Aufnahmeprüfung di Studienkolleg. Minggu pertama,  om diantar  berkeliling kota untuk melihat-lihat dan mengetahui berbagai hal, seperti sarana transportasi: U-Bahn, S-Bahn, Bus. Mempelajari sistem transportasinya, yang bagi kita dari Indonesia cukup rumit. Mempelajari peta kota Berlin dan belajar bagaimana mencari sebuah alamat dan jalan menuju ke sana;  mengunjungi tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari, supermarket mana yang paling murah; tempat kursus bahasa; membuka rekening di bank; mendaftar ke asuransi kesehatan, Krankenversicherung; melapor ke Polizeirevier sekarang namanya Bürgeramt; melapor ke Konsulat Jendral Republik Indonesia, dulu Kedutaan Besar Indonesia masih di Bonn; mengunjungi Studienkolleg, Universitas, Fachhochschule dan Mensa; tempat hiburan seperti bioskop, Kino, gedung Theater, Cafe, Kneipe; mengunjungi perpustakaan di Universitas dan perpustakaan terbesar di Berlin, Staatsbibliothek  disebut juga Stabi; mengunjungi museum dan gedung-gedung bersejarah seperti Reichstagsgebäude, Gedächtniskirche; bertemu dan berkenalan dengan mahasiswa Indonesia di sana yang bergabung pada berbagai organisasi seperti PPI, maupun organisasi mahasiswa di bawah payung keagamaan, seperti PPME, Persatuan Pelajar Muslim Eropa, KMKI, Keluarga mahasiswa Katolik Indonesia dan Immanuel, kelompok mahasiswa Kristen Indonesia. Kemudian om diantar ke Ausländeramt, untuk mengajukan permohonan ijin tinggal.

 

Di asrama mahasiswa, om berkenalan dengan mahasiswa yang tinggal disana. Selain Indonesia,  ada mahasiswa asing lainnya seperti dari Persia, Turki, Pakistan,  India, Syria dan tentu saja  mahasiswa Jerman. Karena dapurnya untuk bersama, om menyapa dan berbicara dengan mereka setiap kali bertemu :  Guten morgen, Wie geht es dir?, Was machst du heute?  Dari kebiasaan berbicara ringan itu, lambat laun om tidak canggung berbicara bahasa Jerman dan juga bertemu dengan orang Jerman maupun orang asing lainnya. Di tempat kursus, om juga memperdalam gramatik dan memperlancar percakapan dalam bahasa Jerman. Om masih ingat nama gurunya, Herr Rosano dari Itali.  Di sana om berkenalan dengan mahasiswa asing dari Thailand, Peru, Persia, Nigeria dll. Selesai kurus bahasa, om mengikuti Aufnahmeprüfung di Studienkolleg. Om lulus karena sudah mempersiapkan diri dengan baik. Tenaga pengajarnya orang Jerman dan muridnya semuanya orang asing.  Pelajarannya dalam bahasa Jerman dan setiap hari kita berbicara bahasa Jerman.

 

Waktu itu usia om 19 tahun. Usia muda, bersemangat, segar dan kuat,  tapi masih labil dan mudah terpengaruh oleh berbagai kesenangan. Om mulai kenal dan berkumpul dengan mahasiswa Indonesia lainnya yang suka bermain-main, dan jarang belajar.  Om juga senang bekerja dan dapat uang banyak, tapi hasil kerja cepat habis untuk main ke diskotek dan berpesiar keliling Eropa. Pacaran dengan nona-nona dari Jerman dan negara Eropa lainnya. Akhirnya sekolah om jeblok, dan dapat teguran dari sekolah. Seperti dipecut, om lalu banting stir.  Om mulai meninggalkan dan mengurangi kesenangan bermain dan  mulai jarang berkumpul dengan mahasiswa Indonesia.

 

Akhirnya om bisa masuk Fachhochschule dan ambil jurusan Ekonomi. Sewaktu di FH  ini, om mulai aktif berorganisasi dan aktif kegiatan politik. Berdiskusi sesama mahasiswa Indonesia maupun dengan mahasiswa asing tentang berbagai tema,  seperti Demokrasi, Hak Azasi Manusia, Lingkungan hidup sampai masalah perdamaian, kemiskinan dll. Karena sering diskusi, maka om juga banyak baca buku, koran maupun majalah berbahasa Jerman. Bagi orang Indonesia, yang om baca itu termasuk berat dan sulit. Kegiatan tersebut di satu sisi membuat bahasa Jerman dan pengetahuan om semakin baik dan mendalam. Namun di sisi lain om mulai jarang mengikuti kuliah di kampus. Namanya juga anak muda, om dan teman-teman merasa  pede dan sok tahu,  besser wisser. Majalah yang om baca juga majalah dan koran yang biasa dibaca intelektual Jerman, seperti Der Spiegel, Frankfurter Rundschau, Tages Zeitung, Die Zeit dsb. Om masuk dan menghadiri lingkaran diskusi orang Jerman dan orang asing di dalam maupun di luar kampus. Pembicaranya ada yang Profesor, Jurnalis atau Politisi, bahkan datang dari Amerika dan Inggris. Biasanya om hanya jadi pendengar, karena ilmu mereka sudah tinggi dan tajam sekali analisanya, scharfsinnig. Istilah om dulu, mereka pakai bahasa dewa. Sering juga tokoh-tokoh intelektual dan oposisi dari Indonesia datang ke Berlin untuk ceramah, seperti Adnan Buyung  Nasution, Arief Budiman, sampai Penyair WS Rendra yang dijuluki si Burung Merak. Om dulu juga sering melihat perdebatan di Parlemen Jerman,  Bundestag melalui TV. Om suka sekali dengan cara politisi  dan negarawan Jerman berdebat, seperti Willy Brandt, Helmut Schmidt, keduanya mantan Bundeskanzler dan Ketua Sozialistische Partei Deutschland (SPD),   Helmut Kohl,  ketua Christliche Demokratische Union CDU),  Franz Joseph Strauss, ketua  Christlich Soziale Union(CSU) dan Otto Schilly,  yang ketika itu masih aktif di Die Grünen, Partai Hijau Jerman. Kalau om ke perpustakaan mencari literatur untuk tugas pekerjaan rumah, Hausarbeit, kerapkali om mendapatkan buku-buku menarik lainnya yang tidak ada hubungannya dengan tugas kuliah. Jadilah om duduk berjam-jam di perpustakaan. Kadang-kadang sampai perpustakaan tutup dan para pengunjung dipersilahkan meninggalkan ruangan. Om suka dengan suasana perpustakaan di sana: temperaturnya stabil, musim dingin tidak terasa dingin dan musim panas terasa nyaman, kedap suara, tidak terdengar orang ngobrol, kamar kecilnya bersih, ada cafe dan kalau pinjam buku untuk dibawa pulang prosesnya cepat, pegawainya ramah dan cekatan.

 

Saking senang dan aktifnya berorganisasi, membuat om lupa kuliah dan lupa harus menyelesaikan sekolah. Ketika om mau memperpanjang ijin tinggal, petugas disana tanya ke om, kapan kamu selesai kuliahnya? “Wenn Sie nächstes Jahr wiederkommen, müssen Sie Ihr Studium fertig sein”, Kalau kamu tahun depan kemari lagi, studi kamu harus sudah selesai ya”, katanya tegas. Om jawab: “Ich werde mein Studium nächstes Jahr bestimmt abschliessen”, saya pasti akan meyelesaikan studi saya tahun depan.  “Ich verspreche es”,  saya berjanji,  jawab om. Itulah pecutan yang kedua, yang om rasakan ketika sekolah di sana. Akhirnya om kembali lagi ke kampus dan mulai mengambil beberapa mata kuliah untuk semester akhir, mengerjakan Hausarbeit dan mengikuti ujuan akhir. Om puasa total, puasa tidak berorganisasi dan tidak bekerja. Om memilih dosen dari berbagai latar belakang ideologi, mereka Profesor-Profesor hebat. Misalnya, Prof  Wilhelm Wedig, dosen Konservativ yang mengajar ekonomi makro, Prof. Erhard Senf, dosen Konservativ yang mengajar Sosiologi, dosen Prof  Christel Neusüss dan Prof Bern Senf, keduanya dekat dengan aliran Sosialis dan Partai Hijau, yang mengajar Sosiologi dan Teori Keynes dan analisa Psychologi Sigmund Freud, Prof Michael Tolksdorf, dosen yang beraliran  Liberal yang mengajar teori Persaingan Usaha.  Om konsentrasi penuh dengan pelajaran. Untungnya om mendapatkan beasiswa dari Evangelische Studenten Gemeinde (ESG) selama dua semester. Selain itu ada banyak orang Jerman dan Indonesia yang membantu om, terutama di saat om kesulitan dana. Mereka memberikan pekerjaan.  Alhamdulilah.  Akhirnya om bisa menyelesaikan kuliah. Pengalaman dan aktif di organisasi dan mengikuti berbagai seminar, diskusi dengan mahasiswa asing atau Jerman ternyata banyak membuka wawasan  serta memperbaiki bahasa Jerman om. Jadi ketika om menulis pekerjaan rumah, Hausarbeit, ulangan, Klausur, ujian akhir, Abschlussprüfung tidak ada masalah dan om lancar-lancar saja melakukan itu semua, bahkan menikmatinya. Bagi om, membaca literatur bahasa Jerman, entah itu ilmu politik, sosiologi, sejarah ekonomi dunia  atau ekonomi internasional, dan tema globalisasi,  seperti membaca komik atau dongeng saking asyiknya.

 

Ingat pada awal cerita ini tentang teman om yang pergi lebih dulu ke Jerman? Om dapat kabar darinya, bahwa setelah dua tahun, dia tidak sanggup meneruskan kuliahnya, karena kesulitan bahasa. Dia tidak mengerti apa yang diucapkan profesor dan sulit mengerti kalau baca buku katanya. Dia juga hanya bergaul dengan mahasiswa Indonesia lainnya, tidak kontak dengan orang Jerman. Akhirnya dia kembali ke Indonesia setelah dua tahun di Jerman.  Sayang sekali jawab om. Tetapi itulah konsekuensinya, jika tidak menguasai bahasa Jerman. Ketika di sana, salah satu dari banyak kegiatan om adalah membantu mahasiswa yang baru tiba di sana. Menampung dan mencarikan tempat tinggal, mencarikan kursus bahasa, mengantar ke Ausländerbehörde sampai mencarikan pekerjaan. Ada salah satu mahasiswa yang om bantu dan tinggal di tempat om. Dia baru lulus SMA, anak orang kaya, tapi manja. Hampir setiap hari dia telpon mamanya, karena tidak betah, dingin katanya. Dulu tidak ada internet,  email atau WA dan biaya telpon ke Indonesia sangat mahal. Setiap hari berkeluh kesah, karena tidak ada yang memasak dan mencucikan bajunya. Padahal kita sering kumpul di asrama mahasiswa dan saling bantu. Akhirnya dia kembali ke Indonesia setelah tiga bulan merasakan dinginnya udara Jerman yang begitu menusuk tulang. Om dan teman-teman punya sebutan untuk anak yang manja, anak mami.Ada banyak cerita tentang mahasiswa Indonesia di sana. Cerita sedih, cerita lucu sampai cerita keberuntungan.  Ada yang hilang ingatan, ada yang bunuh diri, ada yang takut dikejar nona  Jerman, karena takut berdosa  diajak zusammenleben alias kumpul kebo,   sampai ada yang beruntung mendapatkan dukungan dana dari lembaga dan orang Jerman. Namun menurut om, yang paling beruntung adalah mereka yang dapat menyelesaikan sekolahnya, karena itulah tujuan kita ke Jerman. Banyak teman om yang tidak menyelesaikan sekolah di Jerman, karena berbagai faktor dan bukan karena   bodoh.  Mereka ternyata sukses sebagai pengusaha di Indonesia. Itulah sekeping cerita tentang liku liku kehidupan anak bangsa yang merantau dan menimba ilmu di negeri orang. Jadi hidup ini tidak datar-datar saja, ada banyak tikungan,  naik turun dan ada banyak krikil yang menghadang kita, juga ada banyak orang baik yang siap mengulurkan tangannya menolong kita. Semoga pengalaman om ini bermanfaat bagi generasi muda Indonesia kini.

 

Jakarta, Oktober 2016

*) Kegagalan dan Kesuksesan Dalam Hidup Kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *